Hari ini sepi sekali. Ingin sekali ada siapa saja yang dapat
menemaniku. Aku hanya dapat meratapi handphoneku, berharap datangnya
pesan dari dia. Aku menunggu, menunggu dan menunggu. Pesan yang selalu
ada untuk mengusir kesepianku ini. Sudah beberapa minggu aku tidak
menerimanya lagi. Mungkin saja dia sudah tidak peduli lagi padaku. Tiap
kali aku mencoba mengirim pesan padanya, aku berharap ia dapat
menghilangkan sepi di hatiku ini. Namun, aku selalu menunggu lama
menerima balasan darimu. Lontaran dingin yang kau berikan membuatku
semakin sedih. Aku benar-benar merindukan kamu.
“Apa?” telah biasa aku baca setiap kali aku menerima balasanmu.
“Tidak bisakah kau beri sedikit perhatian padaku?” aku pun berpikir, “sejak kapan kita menjadi seperti ini?”
Mungkin semua itu terjadi setelah kesalahan yang sudah kulakukan. Betapa
bodohnya aku saat itu. Mengapa saat itu kuungkapkan perasaanku? Mengapa
harus terjadi? Sungguh aku sangat menyesal. Padahal kita telah
bersahabat sekian lama.
Kuharap waktu bisa diputar. Aku sangat ingin kembali. Aku sangat
ingin membantumu dalam berbagai pelajaran di sekolah. Aku sangat ingin
selalu berada di sisimu. Memang banyak keinginanku. Tapi apa daya,
semuanya sudah terlambat. Semuanya hanya tinggal harapan kosong. Menjadi
kenangan indah bagi kita.
Hari ini memang hari yang berbeda. Seharusnya semua orang berbahagia
di hari kelahiran Yesus Kristus. Aku telah mengucapkan selamat hari
Natal padanya, tepat pada saat pergantian tanggal. Aku menunggu balasan
darimu, menunggu, dan menunggu. Namun pesanku masih belum dibalas.
Kulihat melalui berbagai media sosial, kau telah mengucapkan selamat
hari Natal kepada teman-teman, tetapi bukan aku. Aku sedih. Tak terasa
air mata membasahi pipiku.
Apakah aku memang sudah tidak dipedulikan? Apakah persahabatan kita
hanya sampai di sini? Haruskah semua ini tinggal kenangan? Ku harap aku
tidak memikirkan hal-hal itu lagi. Lagi-lagi aku hanya berharap.
Memang hari Natal tahun ini mungkin kurang berkesan tanpa adanya dia.
Tapi biarlah. Banyak juga teman-temanku yang mengucapkan selamat hari
Natal kepadaku. Setidaknya ada juga yang mengingat aku.
Sedih itu memang tidak berguna. Kesedihan tidak dapat mendatangkan
apa-apa. Aku harus bangkit. Aku masih memiliki keluarga dan
teman-temanku. Tuhan pasti memiliki rencana lain. Lupakanlah segala
sesuatu yang membuatmu sedih dan berbahagialah di hari Tuhan.