Rabu, 25 Desember 2013

Prasangka Buruk

Hari ini sepi sekali. Ingin sekali ada siapa saja yang dapat menemaniku. Aku hanya dapat meratapi handphone-ku, berharap datangnya pesan dari dia. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Pesan yang selalu ada untuk mengusir kesepianku ini. Sudah beberapa minggu aku tidak menerimanya lagi. Mungkin saja dia sudah tidak peduli lagi padaku. Tiap kali aku mencoba mengirim pesan padanya, aku berharap ia dapat menghilangkan sepi di hatiku ini. Namun, aku selalu menunggu lama menerima balasan darimu. Lontaran dingin yang kau berikan membuatku semakin sedih. Aku benar-benar merindukan kamu.

“Apa?” telah biasa aku baca setiap kali aku menerima balasanmu.

“Tidak bisakah kau beri sedikit perhatian padaku?” aku pun berpikir, sejak kapan kita menjadi seperti ini.
Mungkin semua itu terjadi setelah kesalahan yang sudah kulakukan. Betapa bodohnya aku saat itu. Mengapa saat itu kuungkapkan perasaanku? Mengapa harus terjadi? Sungguh aku sangat menyesal. Padahal kita telah bersahabat sekian lama.

Kuharap waktu bisa diputar. Aku sangat ingin kembali. Aku sangat ingin membantumu dalam berbagai pelajaran di sekolah. Aku sangat ingin selalu berada di sisimu. Memang banyak keinginanku. Tapi apa daya, semuanya sudah terlambat. Semuanya hanya tinggal harapan kosong. Menjadi kenangan indah bagi kita.
Hari ini memang hari yang berbeda. Seharusnya semua orang berbahagia di hari kelahiran Yesus Kristus. Aku telah mengucapkan selamat hari Natal padanya, tepat pada saat pergantian tanggal. Aku menunggu balasan darimu, menunggu, dan menunggu. Namun pesanku masih belum dibalas. Kulihat melalui berbagai media sosial, kau telah mengucapkan selamat hari Natal kepada teman- teman, tetapi bukan aku. Aku sedih. Tak terasa air mata membasahi pipiku.

Apakah aku memang sudah tidak dipedulikan? Apakah persahabatan kita hanya sampai di sini? Haruskah semua ini tinggal kenangan? Ku harap aku tidak memikirkan hal- hal itu lagi. Lagi- lagi aku hanya berharap.
Memang hari Natal tahun ini mungkin kurang berkesan tanpa adanya dia. Tapi biarlah. Banyak juga teman-temanku yang mengucapkan selamat hari Natal kepadaku. Setidaknya ada juga yang mengingat aku.
Keesokan harinya, aku terus menunggu. "Apakah dia sudah melupakanku?" Namun balasan tak kunjung datang.

Malam berikutnya, pesan masuk ke handphone-ku. Aku merasa senang sekali karena akhirnya dia mengucapkan juga walaupun telah terlambat 2 hari.

"Nga deliv," katanya.

Aku pun merasa senang dan tenang. Aku terlalu berprasangka buruk terhadapmu. Maafkan aku dan terima kasih atas semuanya.